Jakarta Oh, Jakarta... hooeekk

Thursday, May 28, 2009

Cahaya matahari menyentrong gerbong kereta, membuat catnya kusam seperti celana jeans yag belel. Roda-roda bersinya berputar jutaan kali, menggilas dua ekor laba-laba yang sedang senggama, memipihkan dua keping uag logam 1992 yang hendak dijadikan cincin oleh seorang gelandangan, memuncratkan air seni dari dalam botol mineral kemudian menampar wajah lelaki yang subuh tadi berrteriak girang karena satu ton bawangnya ludes terjual.

Kereta itu pengap. Kipas anginya rusak. Di gerbong pertama seorang wanita mendekati bapak berkumis bertampang alim. Ia menggerakkan alis, meminta tolong ketika seorang lelaki kurus, berambut bau tengik menyilet tasnya. Di gerbong kedua seorang anak jongkok melamun di antara kangkangan kaki mahasiswa teknik kimia yang berbadan tegap. Sementara itu, di dekat toilet yang berbau bacin, Nizar menggenggam pipa panjang yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan. Ia merasa mual, hampir tak mampu menahan desakan bubur ayam yang sudah sampai di esophagusnya. Ia berusaha mensugesti, merapal-rapal kata-kata, "Kuat kuat kuat". Sewaktu kata kuat dirasakannya tak mempan ia mensugesti dengan kata, "Lupa, lupa, lupa" Ditambah, "Sebentar lagi sampai, sebentar lagi sampai. Tahan, tahan, tahan!"

Kereta sebentar lagi sampai di stasiun. Stasiun yag ruwet, hampir sesesak gerbong kereta waktu orang-orang berangkat kerja. Sepuluh menit kemudian kereta melambat. Gerbongnya mengendut-endut seperti tali layangan yang ditarik bocah. Kemudian kereta berhenti sama sekali. Nizar terdorong ke depan, terobang-ambing oleh desakan bahu penumpang. Ia menggumam syukur manakala sepatu kulit seharga tiga puluh lima ribu, yang ia beli di Pasar Baru, menyentuh lantai stasiun. Ia tidak tahu jika kulit sepatunya terkena tetesan oli.

Nizar menengok ke arah kiri gerbong. Ada selaksa hiruk pikuk di sana. Suara buk bak, bik buk terdengar berentetan seperti pertandingan tinju. Seorang lelaki kurus menggunakan celana jeans lusuh, disaksikannya terhuyung-huyung setelah dilempar dari dalam gerbong. Lelaki itu jatuh membentur tiang. Ada darah mengucur di telinga. Ia bangkit hendak berlari. Namun, kerumunan orang yang kesal membuat langkah kakinya terhalang. Setiap kali hendak berlari setiap kali itu pula orang-orang menghalanginya. Kaus bergambar Kurt Cobainnya robek, sementara singlet merek swan yang ia kenakan molor dibetot-betot seorang bapak. Tubuh lelaki itu ditawur belasan orang. Ia meringkuk, memeluk kepala menggunakan tangan, menahan bogem dan tendangan. Silet yang ia gunakan hilang entah kemana. Korban usaha pencopetan merasa kasihan mendengar lelaki itu berteriak kesakitan. "Auwh, akhw, uw!" Terlebih saat mendengar lelaki bau itu memohon, "ampun Om! Uh! ampun Om! Jangan dibakar Om!"

Jakarta! Nizar mendesah bertepatan dengan lenguh seorang lelaki yang selangkangannya disundul anak kecil di dalam gerbong kedua. Kereta berjalan. Bau sangit membumbung. Nizar berbalik. Ia tak ingin peristiwa itu mengganggu tidurnya.
Jakarta memang bukan tempat yang baru bagi Nizar. Hampir seumur hidupnya ia habiskan di sana. Tak ada yang aneh. Justru, yang aneh adalah rasa aman. Ia berjalan, terus berjalan, menyalipi hiruk pikuk. Baru saja Nizar keluar dari mulut stasiun, seorang anak berambut merah menghampirinya. Wajah anak itu terlihat cekung. Perutnya cembung. Tangannya burik. "minta duit buat makan," pintanya. Anak itu mengasongkan botol aqua yang sudah dikerat. "Laper Tante!"

Nizar teringat investigasi media massa yang diturunkan dalam bentuk feature. Kebanyakan pengemis cilik yang melakukan 'gerilya' di ruang publik, seperti lampu merah, trotoar, terminal dan stasiun diorganisir oleh jaringan raksasa, yang memanfaatkan anak-anak sebagai alat untuk mendapat keuntungan dari wujud belas kasihan.
"Tante!" anak itu menyadarkan lamunan Nizar.
"Apa?" Agresif sekali anak ini! Nizar mulai kesal.
"Minta uang! Buat beli Indomie Tante!"
Nizar memberi sekeping uang recehan.
Anak itu menolak. Ia meminta lebih.
"Cepek!? Masa segini!? Cuma dapet kerupuk doang!" jari anak itu membentuk 'v'. "Dua ribu Tante!"
"Gak ada! Sana minta sama yang laen!"
"Ogah!"
Kalau kecilnya seperti itu, bagaimana kalau sudah besar? Bisa-bisa jadi kebiasaan nantinya! Nizar bergegas. Ia berjalan cepat, meninggalkannya. Meski ada rasa was-was yang menggerogoti jiwanya, ia berusaha tak memperdulikan. Ia mengganggap apa yang dilakukannya sudah benar, bahwa tidak memberi merupakan usaha mendidik, agar kelak, si pengemis kecil tidak menjadikan ngemis sebagai profesi.

Nizar tidak tahu, pengemis kecil itu memandang sulur-sulur jilbabnya. Ia tidak tahu, jika hampir dua hari ini, si pengemis kecil tidak makan. Ia tidak tahu, jika saat ini, pengemis kecil itu bukan merupakan bagian dari jaringan raksasa yang tetakelnya menyebar di seluruh kota Jakarta. Ia tidak tahu, jika si pengemis kecil itu dipisahkan dari orang tuanya. Pengemis kecil itu diculik, lalu dipelihara selama dua tahun di Jakarta. Sialnya, beberapa bulan yang lalu orang yang selama ini menjamin kehidupannya, tewas dalam perkelahian di salah satu terminal paling angker di seluruh Nusantara.

Nizar tidak tahu, jika si pengemis kecil, kini sendiri. Ia tidak bisa makan, sebab uangnya diambil gali. Semalaman perutnya mendecit-decit minta diisi. Tak ada yang bisa dimakan kecuali mencicit seperti cecurut. Pengemis kecil gigit jari.

Jam tujuhan, pengemis kecil mendatangi kios masakan padang. Tak ada yang ia dapat selain dampratan. Lima menit kemudian, ia mendatangi warung tegal. Tak ada yang bisa ia makan selain menelan caci dan gebahan. Selanjutnya, ia masuk ke dalam warung indomie. Pengemis kecil itu diperbolehkan. Ia gembira, tetapi si pemilik warung tertawa, "situ boleh makan, asal punya duit dua rebuan!" Pengemis kecil kecewa, maka memintalah ia ke sana ke mari. Mendapat lima ratus ia kembali.
"Ini gopek! Beli indomie gopek aja gak papa?", Si ibu tertawa lagi.
"Mana ada indomie gopek?!" Ia mengambil usang lima ratus yang ada di tangan pengemis kecil.
"Sana! Cari seeribu lima ratus! Kalo udah dapet, balik ke sini!"
Pengemis kecil hampir menangis. Ia berusaha menahannya kuat-kuat. Ia berputar-putar di sekitar stasiun. Pagi ini riskinya seret. Yang didapatkan cuma tambahan seratus perak dari wanita berjilbab yang sebelumnya ia harap dari kejauhan. Pengemis kecil kelaparan. Ia tak tahu harus bagaimana lagi mencari makan. Ia bersandar di tiang. Ia belajar kabur dari kenyataan. Pengemis kecil terlelap di samping kaleng aica aibon milik gelandangan penghuni stasiun. Ia melupakan segalanya. Sejenak melupakan kebutuhan asasinya.

***

Siang itu, Nizar berada di kios foto copy stasiun. Paper yang ia jinjing harus digandakan sebelum nanti sore diserahkan ke bosnya. Seharusnya Nizar bisa menggandakannya di kantor, namun hari ini mesin foto copy rusak. Meminta batuan satpam? rasanya sungkan. Maklum, ia orang baru di kantornya. Sambil menunggu, Nizar makan rendang, sembari menghadap cermin di kios masakan padang. Melalui cermin itulah, Nizar melihat anak kecil yang pagi hari tadi, membuatnya kesal. Jika pagi tadi Nizar merasa was-was, siang ini tidak. Ia tidak menyesal hanya memberi uang seratus perak, bukannya memberi selembar uang seribuan, yang dipikirnya, bakal dipergunakan itu anak untuk mabuk lem.

Setelah bunyi srot srot srot sedotan yang menandakan air jeruknya habis, Nizar menyelesaikan pembayaran. Ia menuju kios photo copy dan mengeluarkan dua lembar uang lima ribuan. Baru saja, kantung plastik berisi poto copy paper setebal seratus halaman diterima, ia merasa roknya ditarik paksa. Nizar berbalik, menemukan pengemis kecil menengadahkan wajah. Tangan kiri pengemis kecil itu terulur.
"Tante minta duit Tante! Seribu lima ratus Tante"
Nizar mengelak. Ia berjalan cepat. Pengemis kecil itu memburunya.
"Lapar Tante. Beliin indomie Tante!"
Nizar tak peduli. Ia mempercepat langkah. Makin cepat, hingga tak sadar jika kecepatan kakinya sama degan kecepatan kaki jawara dua lomba jalan cepat HUT DKI Jakarta. Lima menit kemudian ia sampai di depan pintu kaca kantornya. Ia masuki ruang ber-AC. Merebahkan diri di kursi kerja yang baru seminggu menahan bobot pantatnya.
Sore hari, seluruh kerjaan Nizar untuk minggu ini usai dikerjakan. Keluar dari lift, menuruni tangga, jam digital yag menempel di manset lengan kanan dia, bergetar oleh radiasi gelombang elektromagnetik telepon selularnya.
"Holla?"
Wanita di seberang sana langsung mencecar, "Nie dimana?"
"Pocin! Baru keluar kantor."
"Malem ini jadi kan?"
"Ya iya lah. Btw, mau kemana sih?"
"Kemana aja lah! Pokoknya gue jemput di stasiun UI ya?" Tanpa dijawab pun, wanita itu tau kalau Nizar bakal mengatakan ya.
"Kayla?"
"Ya?"
"Kalau kadonya nyusul gak papa kan!?
Kayla tertawa, "Alah pake basabasi segala. Gua tau Lo kere!"
"Sialan!"
Tertawa lebih keras, "Gak usah pake kado-kadoan. Ditunggu di UI! Segera!"
"Siap Bos! Sepuluh menit lagi sampe. Bye!"
Telepon selular dimasukkan ke dalam tas. Nizar menuju stasiun. Di sore hari, saat asap langit Jakarta kembali diserbu timbal knalpot, sebuah kejadian datang menyambar gledek kesadarannya. Dari kejauhan Nizar melihat orang-orang berkerumun. Semua kepala menoleh ke satu arah. Ada dengung pembicaraan yang mengingatkan pada dengungan tawon. "Jangan-jangan!" Nafas Nizar memburu. Ia tembus ring-ring kerumunan. Terlalu rekat. Nizar mengalah. Di dekat pilar penyangga atap stasiun, ia mendapati seorang ibu tertegun. Tatapan matanya kosong, kehilangan isi.
"Bu... ?" Sang ibu tersentak.
"Ada apa Bu?"
"I...i ...itu lo Mbak!" Ia menangis.
"Itu apa Bu?"
"Anak yang pagi tadi pagi minta indomie di warung saya... mati!
"Mati?"
"Bunuh diri pake baygon! Tu anak ngambil Baygon penjaga stasiun. Ditenggak Mbak?"
Ibu itu menggeleng-geleng.
"Nyesel! Nyeseeeeeeeeel! Gustiiiiii! Nyeseeeeeeeeel!!!" Si ibu berteriak sembari memegang pipinya sendiri. "Kalo tau kejadiannya begini, saya kasih indomie gratis Mbak." kemudian teriakan histeris keluar dari mulutnya.
"Ya Allooooh, ya Alloooooh ampun. Gustiiiiiiiiiiiii!"
Tubuh ibu itu melorot ke bawah. Ia menangis menutupi wajahnya. Jantung Nizar ditambur bertalu-talu. Ada rasa cekam mengerudunginya. Ada semacam kelam yang berusaha disangkalnya. "Jangan-jangan!" ia memaksa menembus kerumunan itu. Ia merangsek untuk memastikan. Betapa terkejutnya Nizar, ketika mendapati seorang anak lelaki tergeletak di atas lantai. Mulutnya meneteskan busa. Tubuhnya biru. Nizar pusing. Ia kehilangan keseimbangannya. Lalu... jatuh.
Tiga orang lelaki membopong tubuhnya keluar dari kerumunan. Seorang pencopet yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, mencuri dompet wanita pingsan, dihajar massa. Lima menit kemudian Nizar siuman. Ia merasa pening. Tidak sampai di situ saja. Ia merasa hatinya kelu. Ia dihakimi fikirannya. Kenapa tadi pagi aku tak membelikannya makanan? Kenapa tadi pagi aku tidak mempercayainya. O malangnya. O sengsaranya. Nizar menangis, Jakarta oo Jakarta! Namun kemudian ia teringat janjinya. Ia memaksa diri berjalan menuju stasiun UI, sambil menyeka leleran air yang sudah sampai di pipi.

***

Lift berkapasitas maksimal dua ratus kilo gram itu membawa mereka menuju tingkat dua. Pintu lift terbuka. Permadani lembut warna merah marun membentang di seluruh ruangan, di seluruh lorong. Pintu bergagang stainless steel terbuka otomatis. Kamera pengawas bergerak. Ruangan semerbak oleh wangi roti, rempah-rempah dan juice buah-buahan yag segar. Alunan musik menetralisir rasa sumpek, orang-orang yang setiap hari merasai kacaunya Jakarta.

Nizar menghela nafas. Ia merasa rileks. Perasaan menjadi semakin baik semenjak ia masuk ke dalam mobil Kayla. Di perjalanan itu, di dalam mobil yang menjadi padat oleh teman-teman wanitanya yang bertubuh padat juga, Nizar mendengar tawa, melihat lipstick yang melekat pada bibir yang menantang, mencium wangi parfum kendaraan bercampur parfum tubuh yang melenakan. Tapi, ia belum bisa melupakan. Ia terus membandingkan keadaannya dengan yang dialami pengemis kecil yang mati di luar sana.
O' di balik kaca bening itu Nizar tenggelam di dalam dirinya. Ia terseret ke dalam palung lamunan. Jiwanya masih terseret peristiwa tragis yang terjadi di stasiun Pondok Cina. Jiwanya masih singgah di luar sana.
O' Nizar teringat raunga histeris pemilik warung indomie. Alangkah menyedihkan. Alahkah meresahkan. O ia teringat cuplikan-cuplikan berita di media massa yang telah menghegemoni, membujuk dia untuk memukul rata bahwa semua yang ada di jalanan, sama.
"Nie!" sebuah teguran dari balik kemudi berusaha membantunya
Nizar tergeragap. "Dari tadi diem aja?"
Nizar menggeleng kepala. Tersenyum hambar, berusaha memupur wajahnya dengan senyuman.
"Cerita dong Nie?" desak Kayla sembari menekan kopling, memasukan gigi tiga.
"Gak apa-apa."
Bukannya Nizar tak mau bercerita. Bukannya ia tak mau berbagi. Ia tidak mau kemurungan yang ada di dalam hatinya menular, di hari yang seharusnya membuat Kayla, pengemudi mobil itu bahagia. Hari ini ia tak mau merusak semuanya. Ia harus merepresi perasaannya.

***

Teman-temannya sudah memesan makanan, sementara Kayla melihat, belum satu menu pun yang dipilih Nizar.
Nizar melamun. Kertas tebal berisi menu makanan itu menghalangi tatapan teman-temannya.
Kayla mengingatkan, "Nie pesen apa?"
Nizar tergeragap. Ia memaksa diri untuk memperhatikan menu makanan. Ada desert ada dinner... Ia memilih salah satu di antaranya. Ada minuman yang memabukkan. Ada sari buah-buahan yang menyegarkan. Ia memilih air mineral.
Kayla mencoret pesanan yang Nizar terakan di nota, "Minumnya jangan yang biasa-biasa aja dong!"
Dipilihnya minuman yang ia rasa bakal membuat lidah Nizar menjulur-julur hingga New Zealand. Juice buah kiwi. "Supaya kulitmu halus," tambahnya, bercanda.
Saat semua pesanan dihidangkan di meja. Nizar didaulat untuk memimpin doa sebelum bersantap. Didoakannya agar tahun menambah kedewasaan pemilik acara, Kayla Didoakannya agar tahun yang tersisa membawa berkah dan kebajikan untuk semua. Amin. Amin. Amin. Di atas meja berdentang-dentanglah bunyi peralatan makan.
Sejam berlalu, obrolan yang semula mengalir dalam satu aliran besar pembicaraan, kini sambung menyambung, berkelok-kelok menjadi meander pembicaraan yang sukar dirunut ujung pangkalnya.
Dua jam berlalu, ada penambahan menu makanan dan minuman. Jika mulut semangat, perut perlu asupan yang setara, dan kerongkongan perlu pelumas yag tak sekedar tegukan ludah semata.
Di tengah melimpahnya makanan dan minuman, aliran sungai pembicaraan makin menganak. Ada kegembiraan, ada kebahagiaan yag diawali dari teka teki, tawa dan celetukan.
"Orang Indonesia itu aneh!" Kata teman Nizar.
"Aneh kenapa?"
"Kalau lapar galak kalau kenyang bego!"
Semua tertawa gak gak! Nizar pun demikian. Ia menganggap sudah bisa melupakan peristiwa tragis yang dialaminya sore tadi.
Jam menunjukkan waktu penghabisan. Saat suasana ceria berubah menjadi stagnan, semua yang berkumpul merasa perlu perubahan untuk kembali menyegarkan. Maka, dipilihlah ajojing ria di lantai disco. Namun, Kayla sang empunya acara menyadari, bahwa Nizar tak mungkin memufakati usulan teman-temannya, maka pantai-lah yang dijadikan pengalihan. Mereka merapikan pakaian. Tiga orang masuk ke dalam toilet, menata kosmetiknya yang luntur. Nizar tak melakukan itu. Ia hanya perlu mengusap bibir yang dirasakan terlalu mengkilat. Ia memilih untuk mengantar Kayla. Sampai di depan meja yang terbuat dari marmer hitam, kasir restaurant tersernyum.
"Meja berapa Mbak?"
Meski Nizar bukan seorang pendendam ia membalas senyuman yang dilampirkan padanya, "Tiga belas" katanya.
"Sebentar..." ketak-ketik jemari kasir terdengar. Kayla mengambil brosur. Sementara Nizar merogoh dompet yang ada di dalam tas.
Pikirnya, siapa tahu kurang.
Perhitungan selesai. Kasir lupa jika layar digital ditekuk ke sebelah kanan, konsumen tak bisa melihatnya. Kasir merobek kertas tagihan dan menyerahkannya pada wanita di samping Nizar. Kayla, menatap tagihan yang ada di tangan. Ia membuka dompet. Melongok uang yang ada di dalamnya. Ada tiga lembar uang seratus ribuan. Ia mengurungkan, kemudian mengambil kartu kredit dan menyerahkannya pada kasir.
"Berapa Kayl?" Nizar bertanya, sambil mengeluarkan dompet. "Kalau tidak ada uang cash biar kutambahkan," tambahnya.
"Dua empat." Kayla tersenyum. "Dua juta empat ratus ribu" wajah Kayla terlihat santai. Sangat-sangat santai.
Bulu kuduk Nizar tiba-tiba meremang, Ia memastikan "Berapa?"
"Dua juta empat ratus ribu, sayaaang," Kayla tersenyum. Ia berpaling saat kasir menyerahkan kartu kreditnya.
Nizar tercekat. Tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang mendesak dari dalam perutnya. Ia melangkah menjauhi Kayla.
"Nie kenapa?" Kayla berbalik, setengah berteriak. Ia melihat Nizar melambaikan tangan tanpa membalikkan tubuhnya. Jalannya semakin cepat, setengah berlari. Sesuatu yang ada di dalam perutnya seperti ingin menyeruak. Di bawah papan lampu bertuliskan ladies, Nizar menubruk seorang temannya. Nizar menutup mulut.
"Nie kenapa?!" tanyanya.
Nizar tak mendengar. Ia masuk dan mendobrak pintu toilet. Dua orang temannya yang tengah memperbaiki alis dan maskara terkejut. "Nie ada apa?!" serempak mereka bertanya.
Nie tak menjawab. Beberapa detik kemudian, sebuah suara menggelegak terdengar. Ada lava yang merayap di kerongkongannya. Leher Nie tegang. Tubuhnya melonjak lalu...
"Hoeeeeeeek! Hoeeeeeeek! Hoek!"
Nizar muntah. Tubuhnya lemas. Ia bersandar. Lunglai tak berdaya di hadapan mulut water closed. Air matanya tumpah ruah. Nizar terisak seperti kehilangan kesadaran akan lingkungan sekitarnya.
"Nie kenapa?!"
"Nie kenapa?!"
"Nie kenapa?!"
Sudah tiga oragg bertanya. Mereka tidak tahu, jika jiwa Nizar mengalami pendarahan hebat. Mereka tidak tahu sewaktu Kayla mengatakan dua juta empat ratus, Nizar teringat uang receh seratusan. Ia teringat stasiun Pondok Cina dan seorang pengemis kecil yang memaksanya untuk memberi uang seribu lima ratus. Saat parfum toilet masuk ke lubang penciumannya, Nizar tiba-tiba teringat wangi baygon yang menetes keluar dari mulut pengemis kecil yang malang. Ketika luber makanan bercampur asam lambung keluar dari perutnya, Nizar teringat kembali akan indomie yang memaksa pengemis kecil di Pondok Cina, menghiba.
"Ya Tuhan!" Isaknya.
Lalu... "Hoeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeek!" berkepanjangan dan Nizar hilang kesadaran. Semaput.[divan semesta]

catatan:
tulisan ini pernah dimuat di "catatan sore KEPAL LOSARI" episode 04

5 comments:

GpOL June 03, 2009 10:56 AM  

Bos kok saya gak bisa buka MPnya ente yach?

misbah June 03, 2009 4:23 PM  

@GpOL: MP... apaan tuh?

siluet waktu June 20, 2009 9:58 PM  

well, a nice one!

Hmm... Jakarta? We are the eyewitness :-)

misbah June 24, 2009 2:55 AM  

Sekali lagi dilema ...

fajargoth August 25, 2010 2:26 PM  

salam kenal....
waduh artikelnya keren banget..ane jadi kepengen belajar nulis jadinya.. biar bisa bikin artikel yg bagus kaya yang ini...

mampir-mampir balik ya :)

About This Blog

Blog ini berisikan semua tulisan, baik dari misbah atau dari sumber lain. Isinya segala hal yang ingin diinfokan kepada teman-teman yang lain.
Selamat menikmati, dan terimakasih telah berkunjung ke blog misbah.

Recent Posts

  © Blogger template Cumulus by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP